Jumat, 30 Desember 2016

CINTAKU BIMBANG

Untukmu : DIANA

Dalam perasaan tak selalu indah
Dangkalnya cinta tak mengupas rindu
Kau tahu itu; maka mengertilah
Sebuah perasan dalam yang menggebu

Semaikan dia pada jiwamu yang terdalam
Semisal siraman bunga ditaman
tumbuh dan mekar mewarnai perasaan
Agar kau tau cinta tak selalu memiliki

Pada kebimbangan harusnya memilih
Menegaskan perasan cinta menjadi putih
Tersebab bimbang adalah perasan rapuh
Kau hanya butuh sedikit langkah

Agar kebimbanganmu terhempas
Dibawa angin meretas rasa" nian tuntas
Agar kau dapati cinta yang romantis
Bersama dia yang kau anggap pantas

Bukankah keraguan merapikan hati
Tuk merebut cintamu dengan hati
Seperti katamu aku ingin diselimuti
Dengan sarung imamku nian peduli

Bersamaku hingga akhir nanti
Merayut kisah-kekasih
Dalam hidup kian berseri
Pada hari-hari yang kami lewati
Dengan cinta yang mahabbah

Matapencil; Ternate 301216

Kamis, 29 Desember 2016

PEREMPUAN BERMATA BIRU


Di central Halmahera dirimu
Lantang mengatakan cinta
Tidakkah kau tahu cinta itu buta
Tak seperti bening dimata birumu

Pada lelaki timur Halmahera
Membuatnya terpana
Pada setiap pandangan
Menggelikan rasa-rasa senyuman

Kau melepas bunga genggaman
Ditanganmu yang lembut gemulai
Semisal helaian kapas nian lembut
Terhempas angin alihkan pandangan

Pada matamu nian membiru
Membisukan harapanku
Tersebab engkau bukan milikku
Sepantasnya cukup dengan satu

Bahwa kau semestinya dituntun
Pada sikap cinta lelaki yang santun
Bukan pada mata lelaki yang sok mengayun
Melirik; mengulum langit menembus ubun

Karena engkau perempuan santun
Pada kecantikanmu adalah masa depanmu
Pada kemolekan dirimu adalah keindahan
Hingga kau tau begitu jelita mata indahmu

Duhai perempuan bermata biru
Bungkuslah lekukan birahimu
Dengan sikap dan budi bahasamu
Sebab milikmu adalah ketetapanNya

Mata Pencil; Halmahera 291216

Rabu, 28 Desember 2016

MAHAR CINTA DILANGIT TERNATE

MAHAR CINTA DI LANGIT TERNATE
=============================

Perjalanan desember tahun ini
Hampir menggapai langit putih
Saat kata bibir manismu tumpah
Membasahi dinding kalbuku; Diana, kini

Biru langit menjadi putih bersi
Ketika kata-kata cinta kau sulam dihati
Menepati janji suci
Terisak tangis bahagia bersaksi

Di langit Ternate kita berdua
Berkata cinta
Pada keagunganNya meminta
Menyatukan hati kau dan aku Diana

Pada kesungguhan kau bersedia
Telah aku terima mahar cinta;
Tersebut dengan saksi saksi mata
Sembari terucap doa-doa mereka

Inilah nikmat bahagia yang kita pinta
Melengkapi perjalanan desember ceria
Tentang kita; Diana
Nyata telah kupersunting dalam istana

Sekali lagi dengarlah baik-baik
"Mahar cinta di langit Ternate" menjadi titik
Bahagia bersama dengan maha suci Allah

Mata Pencil Ternate 281216

Jumat, 23 Desember 2016

MEMBUNYIKAN SUNYI


Dibilik sebelah ranjang terucap kata lunak berkelok nan indah merdu dengan bait nada
bayati dari gerak alif sampai pada nun tasjid
dengungan itu mengikuti aliran nafasnya

Mataku tertutup sedang hatiku merasa sejuk
Sampai getaran bunyinya merambat telinga
Begitu manja mengaliri seutuhnya jagad
Dialah wanita sholehah yang selalu taqwa

Mengulangi hal yang sama pada sunyinya
Menemani kitabullah semisal dialog diriNya
Menemukan cara mudah yang tak mudah
Bisa dilakukan pada kita yang menghambah

Inilah keadaan yang sejatinya harus terpelihara
Hingga sinar bulan matahari tetap bercahaya
Hingga keyakinan tetap bersuara pada sunyinya
Tak sekedar cara membunyikan sunyi semata

Tersebab makna makna keilahian melintas diantara ruang dan waktu, pada insan pilihan
Berkata-kata pada kebaikan juga kesabaran memelihara alam dengan petunukNya

Mata Pencil; Halmahera 241216

Minggu, 18 Desember 2016

KEMARAU DIDADAMU

KEMARAU DIDADAMU
==================

Seribu musim menghampiri
Sejak ditinggal dia yang kau sayangi
Katamu seribu kecup itu tak cukup mengobati
Pada dialog dua dada dekap mengaliri

Merasuk basahi rongga-rongga rusuk
Didadamu nian tercabik-cabik
Semisal luka sayatan disirami air garam
Nyeri terasa menyatukan seribu musim

Sebesar itukah dia bagimu;
Acapkali kau diam membisu
Menatap langit dan kaupun bertanya
Bagaimana keadaan dirinya disana ?

Inikah kemarau Didadamu
Menyalib rasamu tak lagi merasa
Merapatkan hatimu tak lagi menyapa
Kepada siapa kekasih yang puan mau

Puan; bisakah kemarau didadamu
Kusirami kembali dengan air dihatiku
Biar mudah ; beritahukan aku caranya !

Tersebab kau harus tau bahwa kita ;
Adalah sepasang rindu pada kemarau itu"

Karena itulah didadamu ;
aku ingin lelahmu kau sandarkan didadaku

Meriuhkan kembali desahan dialog itu
Rasakan kembali seribu kecup dikeningmu
"Bersamamu mengakhiri kemarau didadamu"

Mata Pencil ; Halmahera 181216

Sabtu, 17 Desember 2016

CINTA KEPADA SANG NUKU

Pada jejak perjuanganmu
Membakar spirit anak negeri ini
Membumikan cinta moluku kie raha
Pada seantero penghuni tanah leluhur

Cinta kepada sang Nuku
Adalah aromah jati diri
Kami bangga
Kami berbaur

Tetapi kami bersatu
Mengenang jasamu
Menyatukan kami dalam satu hati
Berkarya atas negeri ini

Cinta kepada sang Nuku
Adalah memupuk nilai nilai juang
Mencintai peradaban
Mempertahankan moral

Cinta kepada sang Nuku
Mengikis perbedaan
Bahwa kita adalah Nuku dan
Nuku adalah kita

Beta pulang
Mengobarkan juang
Dari leluhur untuk generasi
Berkarya untuk negeri moluku kie raha

Sulfiudi: Halmahera 241016

PADAMU CINTA

Perihal perjalanan kita
Telah usai kau cerita

Begitu lengkap nian sempurna
Disetiap lembaran-lembarannya

Semisal jejak langkah
Kau telah melewatinya

Walau pun susah payah
Bahkan terlunta-lunta

Semisal rasa;
kau telah merasakannya

Ketika luka bahagia;
kau mampu merawatnya

Saat-saat rindu kaupun bisa;
mendendangkannya

Lalu ; padamu Cinta

Bergegas langkah menuju labuan
Menyatukan rasa cintamu, puan!
Kepada Tuan menantimu di peraduan

Mata Pencil: Halmahera 181216

Kamis, 15 Desember 2016

BUNGAKU LA VENDER

Bila pagi mekar bersama embun
Melepas wangi yang harum
Pada pucuk dan dedaunan
Butir butir embun ikut senyum

Bungaku lavender
Ini masih pagi dibulan desember
Bulan menggenapi bilangannya
Pada hitungan bulan menjadi tahun-Nya

Bermacam wajah rupah manusia
Sibuk mengejar suka cita
Semisal warna warni bunga
Membela rasa penuh selera

Ketika desember adalah musimnya
Kenapa kita selalu menyiramnya
Bukankah hujan langit cukup untuknya
Memanjakan bunga lavender yang setia

Bungaku lavender
Putih juga ungu itu indah bukan
Bila putihnya adalah suci; rawatlah ia
Bila unguhnya bilur ; siramilah ia

Bunga tetaplah bunga
Bukan bungabunga perawan dan janda
Bukankah semua itu sama dimataNya
Biarlah ia mekar sepanjang musimnya

MataPencil ; Halmahera 161216

Selasa, 13 Desember 2016

MATAHARI DI AMBANG SENJA

Pagi kau bangun
Melepas mimpi nian kelabu
Meretas sepi bersama embun
Gigil membalut rasa kian rindu

Ketika matahari menancap diubun-ubun
Pada perjalanan waktu kian menuntun
Pada kepulangan waktu yang sebenarnya
Tatkalah kau bertanya" kepada siapa?

Aku berjalan, dengan apa aku membawa
Diri ini dengan matahari kian terasa
Saat matahari diambang senja
Sudah cukupkah bekal yang kubawa

Bukan kah perjalanan matahari itu pasti
Adalah takdir yang tak mesti ditanyakan
Tetapi kenapa tidak kau sadari
Bahwa perjalanan adalah kepulangan

Ketika pagi; sejuk terasa membumi
Ketika siang; panas teras menyengat
Ketika senja; kuasa mengajari
Pada ambang pintu taubat

Janganlah mati
Sebelum tiba ajalmu
Tidak  kah engkau melihat mayat-mayat yang sedang berjalan"

MataPencil; Halmahera 141216

Senin, 12 Desember 2016

RINDUKU PADA TITIK RINDUMU

RINDUKU PADA TITIK RINDUMU
==========================

Adalah kedamaian rasa memuncak
Pada kearifan membalut rasa
Berpaling dari cinta yang sesungguhnya
Tuk kembali menemukan cinta yang baik

Bukan cinta kian membabi buta
Bukan cinta yang sekadarnya
Bukan cinta sekedar cinta
Tetapi cinta yang mahabba

Wahai Diana kekasihku
Rinduku pada titik rindumu
Tetaplah hadap diri
Ketahuilah engkaulah yang pantas diuji

Pahamilah kita adalah kita
Kita adalah genggaman-NYA
Kita adalah insan penuh hamba
Pada titik rindu selalu diuji-NYA

Bersalawat pada kekasih-NYA
Agar kita kelak mendapat safaat cinta
Pada kepulangan kita
Karena sesungguhnya

"kita berpulang pada titik rindun-NYA;

Ragukan bahwa bumi itu bulat
Ragukan bahwa bintang itu di langit
Tetapi jangan Ragukan cintaku
Duhai Diana kekasihku

Mata Pencil 121216

Selasa, 06 Desember 2016

KABAR HITAM TENTANG DIANA

KABAR HITAM TENTANG DIANA
==========================
Gendang telingaku pecah
Mendengar kabar kata
Kau telah pergi dari dia
Serasa langit runtuh

Menghimpit atap rumahku
Yakinku kau tak begitu
Sebab kau begitu soleha
Kenapa sikapmu begitu

Diana kekasih pujaanku
Bukankah engkau tau
Suami pilihanmu
Sangat menyayangimu

Siapa yang membuatmu terusik
Hingga enyah kau dari rumah
Apakah itu hanya angin berbisik
Datang mengabari begitu perih

Harapku kembali pulang sayang
Bulatkan imanmu sekali lagi
Pandanglah ke langit sayang
Berdiri sekuat hati dikaki bumi

Tutup rapat mata hatimu
Jagalah milikmu saat ini
Sebab dikau mampu
Merawat semua ini

Semua itu ujian diri sayang
Sebab imanmu sedang goyang
Hadap diri itu lebih baik
Berikanlah yang terbaik

Untuk suamimu
Anak-anakmu
Sebab esok tak seperti hari ini
Dan hari ini kau telah diuji

Pada-NYA tetap bersyukur
_____________________________
MataPencil; Ternate 061216

Senin, 05 Desember 2016

DATANGLAH KERUMAHKU

DATANGLAH KE RUMAHKU
======================

Pada tiap-tiap waktu telah kutetapkan
Lima kali sehari aku memanggilmu
Suara menggema memecah langit
Telah kuperdengarkan kepadamu tuan

Datang dan sempurnakan langkahmu
Sebab pada hitungan itu adalah derajat
Sebab pada hitungan itu adalah pahala
Sebab pada hitungan itu adalah kebaikan

Bila engkau dekat sesungguhnya aku dekat
Sangat dekat dengan urat nadimu
Dirumahku kau bersimpuh dihadapanku
Mersakan kedamaian hati yang tulus

Ketika takbir
Ketika ruku
Ketika sujud
Ketika duduk hingga akhir salam

Doa doamu menembus lapis langit
Perasaan bathin begitu damai
Maka datanglah ke rumahku
Memohonla dengan kerendahan

Diwaktu waktu yang telah ku tetapkan
Wadduha ketika pagi
Walfajri ketika fajar
Wallail ketika malam

Tanazzalul malaikatu warruh

Mata Pencil ;Ternate 051216

HATIKU UNTUK PEREMPUAN MELAYU

HATIKU UNTUK PEREMPUAN MELAYU
===============================

Perempuan melayu
Kalungkan aku semilir rindu
pada batas rayu tak terbatas rindu
Pada puisi puisimu

Aku  hanyut diselat hatimu
Menyelam sepanjang rongga
Menepi di buaian kalbu
Tumpahkan rinduku padamu

Dikau perempuan melayu
Senandung puisimu meluruh
Memanggilku diruas ruas hujan
Menggugurkan semua kenangan

Sungguh aku sangat kepayang
Pada kenang kau tahu itu bukan
Tuangkan aku secangkir madu
Menghapuskan duka duka bahagia

Disemenanjung jumpa kita
Berkata kau sedang menunggu
Kedatanganku pada semua musim
Desember pun tiba mengakhiri semua

Bukankah ini desember yang basah
Kupenuhi janji setia kita berdua
Ini bukan lagi kabar kata
Tataplah mataku ini nyata

Bahwa ini benar aku datang
Bukan untuk pulang
Ini aku berjuang
Sampai diselat hatimu yaang

Tuntunla aku ke tuan
Ingin aku ucapkan
Pinangan yang kita inginkan
Sembari menyematkan sepenggal puisiku

Pada rongga rongga dinding kalbumu
Menyempurnakan bait bait puisi kita
Sampai akhir waktuku
Aku mati dipenggal puisi rumah kita

Mata Pencil 051216

Jumat, 02 Desember 2016

PADAMU ISTRI DAN ANAKKU

PADAMU ISTRI DAN ANAKKU
========================
;Untukku

Bukan hitam atau putihnya mata
Bukan pula bening atau coklatnya
Dekat atau jauhnya Memandang
Tetaplah sosok istri yang kupandang

Mengendalikan pandangan itu baik
Mendengarkan nasehat itu bijak
Mengucapkan terima kasih pada istri
Itu lebih baik dan sangat berarti

Bukankah itu bentuk perhatian sesamamu
Sepasang mata yang memaknai diantaramu
Ketika bahagia, ketika sedih, ketika memadu
Tak boleh berpaling teruslah menjadi dirimu

Bersama istrimu juga anak-anakmu
Tunjukkan kasih sayangmu
Pada semua musim yang kau lalui
Bercerita tentang warna warni

Pada setiap musim luka-luka bahagia
Seringkali mengulang kembali
Ucapan kata-kata I love you
Seperti dulu masa-masa  pacaran

Bukankah istri adalah wanita hidupmu
Begitu sabar mengurusi dirimu
Juga anak-anakmu
Diala makmum dikeluarga kecilmu

Menyempurnakan ketidak sempurnaanmu
Jangan sekali kali membuatnya menangis
Apalagi sampai marah, bukankah itu egois
Tetaplah jadi sosok suami yang patu

Ketika engkau dicibiri suami takut istri
Tetaplah tersenyum tak perlu malu
Mereka hanya belum mengerti
Bahwa istrimu sangat merindu

Ketika memanggilmu pulang kerumah
Disaat malammu kau habiskan diluar sana
Sejatinya kemerdekaanmu adalah Kemerdekaannya pula

Maka berbagilah waktumu
Sebab esok hari
Merekalah yang kau candai
Merekah yang kau cintai

Sungguh merekalah bahagiamu
Sungguh merekalah semangatmu
Sungguh merekalah hidupmu
Dunia akhiratmu
----------------------------
Matapencil 031216