Minggu, 15 Maret 2020

CORONA

CORONA

Di sudut ibu kota
Corona bagaikan sniper
Siap melepas diri di ujung senjata
Gedunggedung pun diam ketakutan

Tak mengenal kaum proletar dan borjuis
Keresahan memuncak
Mengancam jiwa-jiwa manusia
Bagaikan telur di ujung tanduk

Tak terkira
Tak terduga
Menghirup kepulan berita fatamorgana
Menembus kebeningan paru-paru

Corona bagaikan musuh dalam selimut
Virus yang tak memiliki akal
Mengancam manusia yang berakal
Bagaimana bisa membuat kita menjadi takut

Apakah manusia melampaui batas?
Hanya manusia yang tak berselimut iman
Yang menusuk jantung dunia
Hanya manusia yang tak memiliki cinta

Merusak dengan tangannya
Membunuh dengan lidahnya
Hingga Corona bangkit dari tidurnya
Menjadi musuh yang nyata menelan nyawa

Hei manusia
Tak perlu khawatir dan takut
Kembali sadar diri dan hadap diri
Bahwa yang terjadi adalah peringatan diri dari diriNya

Jakarta : 2020

MataPencil

Sabtu, 08 Desember 2018

LUKISAN SENJA


kicauan burung bidadari
pada rantingranting kenari 
mengelus lesung pipinya sendiri
Seakan mencari senyumnya yang hilang

di ufuk barat
senja melukis dirinya begitu perak
seakan tak mau bersilat lidah yang lunak
selayaknya hanya bisa melihat

kesabaran tak terbatas
kepasrahan kian meretas
dalam beningnya laut
megusapkanya pada kaki langit

aku bukanlah aku
karena aku adalah aku
aku bukan yang lain sepertimu
sebab yang lain adalah aku

jangan merobek luka
yang masih segar di tubuhku
mengertilah makna kicauan itu
senyummu ada di sana

pandangilah lukisan senja
karena setiap kepulangannya
menitipkan senyum yang kau cari
pada setiap diri 

Ternate : 08/12/18
#MataPencil

Senin, 15 Oktober 2018

SECANGKIR RINDU BUAT AYAH

SECANGKIR RINDU
BUAT AYAH

"Ayah;
anakmu ini selalu merindukanmu, sejak kepergian mu selamanya

Rinduku, ibarat amalan;
maka amalan terbaik adalah mengingat kematian

Telah ku tuangkan doa-doa terbaik, untuk ayah dalam setiap sujudku
dan aku tahu, kepergian ayah adalah jalan kepulangan ke surgaNya

Namun, secangkir rindu untuk ayah, takkan pernah lekang oleh waktu, sebab ayah selalu ada di hati anakanakmu

Sesekali teringat olehku, nasehatmu, canda dan tawamu, ketika berkumpul di rumah mungil kita.

Semuanya telah berupa kenangan dalam ingatan, bahwa ayah sungguh mencintai kami, mendidik dengan cinta dan kesabaran.

Dan kini, tepat pada penanggalan limabelas oktober, adalah hari dimana ayah pergi selamanya.

Rasanya hati ini tercabik, bagaikan luka yang digarami, pedih bercampur sedih yang sangat dalam.
Tetapi anakmu, sadari bahwa yang terjadi adalah sebuah ketetapan ALLAH.

Karena cintaNya kepada ayah, dan kami semua anakanakmu mencintai ayah seperti ayah mencintai kami semua.

Rindu ini selalu buat ayah
Selamanya untuk ayah
Lelaki terbaik dalam hidupku
Semoga ayah tenang di surgaNya

Aamiin

Ternate; 15 oktober 2018
Anakmu.

Sabtu, 08 September 2018

TANGANTANGAN BESI

secangkir kopi
di meja tuantuan besar
sebatang cerutu di bibir
membakar ruangruang sepi
d ladang petani
dialog sepasang capung
dimana lagi kita berlindung
sedang gambutgambut pun terbakar
akarakar mengering
di tanah tuan
tuantuan menghadang
dengan dalih pembangkang
di negeri sendiri
terpasung
oleh tangantangan besi

Halmahera : 2018
Mata Pencil

Kamis, 30 Agustus 2018

SERIBU CINTA LELAKI TAMPAN

==============

Lelaki berkalung tampan
Menabur seribu cinta
Berucap setia
Pada puan

Diujung utara sumatra
Menyemai benihbenih cinta
Tanpa lelah, sematamata
Ia merawat luka bahagia

Datang menawarkan
Air mata dewa
Menuangkan tetesantetesan
Dikalah kekeringan melanda

Pada ruangruang kegelisahan
Menepis badai
Menebas kesepian
Saat puan dihadang sunyi sepi

Kehadirannya
Bagaikan hujan dimusim kemarau
Sungguh puan tak menduga
Lelaki tampan itu

Berhati mulia
Tanpa melihat siapa diri saya
Oh, Tuhan..
Apakah doaku telah Engkau kabulkan

Saatsaat kaki dan tanganku
Terlipat, karena masa laluku
Kupasrahkan hati ini
Terbuka kembali

Aku yakin bahwa
Kedatangannya
Adalah hadia terindah
Atas petunjukMu, ya Allah

Ternate, 251217

Mata Pencil

Jumat, 20 April 2018

DIALOG DAUN


Lihatlah
Dibalik jendelamu
Ada rindu

Di kelopak bungah
Membulir nian deras
Serupa air di daun talas

Daundaun
Memandangmu
Melihat senyummu

Tertegun
Dan, seakanakan
Bertanya

Kepada siapa ?
Senyum itu, kau berikan
Kepadaku ?

Atau, untuk Dia
Ah.., mungkin aku
Terlalu rindu

Biarkan
Rindu ini tetap berjalan
Melewati jedela hatimu

Tersebab rindu
Tak selalu menunggu
Sebab sejatinya rindu

Hanyalah kepadanNya
Sebab Senyummu
Untuk perempuan pilihan

Ternate 080118
Sulfiudi Hasan



Rabu, 10 Januari 2018

MELEPAS RINDUKU DI DERMAGA KECIL


================

Engkau telah pergi
Meninggalkan seribu janji
Disaksikan senja
Ketika langkahmu beranjak di dermaga

Diantara tangisan
Serupa harapan kepada mereka
Kapan?
Engkau akan kembali tiba

Disini
Di dermaga kecil ini
Agar kita menceritakan rindu
Dengan suara yang sedikit mengadu

Kepada suara ombak
Kepada desiran angin
Dan kepada pasir yang berbisik
Diantara karang dan bebatuan

Pada penanggalan satu januari
Tahun ini
Terhitung usia perjalananmu
Meninggalkanku

Sepuluh tahun lamanya
Waktu yang tak kusangka
Tak lagi mendengarkan kabar kata
Tentang dikau yang jauh disana

Kau tahu..!
Setiap penggalan satu januari
Aku pergi
Ke dermaga kecil itu

Sebagai tanda merindukanmu
Menatap senja
Lalu kembali tanpa katakata
Dalam diamku

Kupeluk rinduku
Disetiap malammalamku
Dengan suara qalam
Hingga mataku terpejam

Harapku
Bila esok pagi
Engkau datang dihadapakanku
Dengan cerita indah, serupa pelangi

Mewarnai kehidupan kita
Hingga senja pun melukis dirinya
Pertanda, kesaksiannya tak siasia
Melihat kedatanganmu yang bahagia

Halmahera 11/01/18
Sulfi Udi Hasan